Kandungan Surah Al-Insyirah. [94]

Kandungan Surah Al-Insyirah. [94]

Surah al-Insyirah. [94] merupakan surah pendek dalam Al-Qur’an. Surah al-Insyirah. [94] terdiri atas delapan ayat. Surah al-Insyirah. [94] termasuk surah Makkiyah. Surah al-Insyirah. [94] ayat pertama menjelaskan bahwa Allah telah melapangkan dada Nabi Muhammad. Selain itu, Allah juga telah menurunkan beban Nabi Muhammad yang memberatkan punggungnya. Penjelasan ini dapat kita temukan dalam ayat kedua dan ketiga Surah al-Insyirah. [94]. 

Sebagian mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud beban Nabi Muhammad adalah kesusahan-kesusahan yang diderita oleh Nabi Muhammad saw. dalam menyampaikan risalah.


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
  1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?,
  2. dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,
  3. yang memberatkan punggungmu,
  4. dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.
  5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,
  6. sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
  7. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),
  8. dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

Dalam ayat keempat Surah al-Insyirah. [94] Allah menjelaskan, bahwa Dia meninggikan sebutan nama Nabi Muhammad. Para mufasir menjelaskan makna ayat keempat al-Insyirah. [94] ini, bahwa Allah meninggikan derajat dan mengikutkan nama Nabi Muhammad dengan nama Allah dalam kalimat syahadat. Selain itu Allah swt. menjadikan taat kepada rasul termasuk taat kepada-Nya. (Hamka. 2006: halaman 199)

Dalam dua ayat berikutnya Allah menjelaskan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Penjelasan tentang kemudahan yang ada bersama kesulitan ini dijelaskan dalam ayat kelima dan keenam. Dalam ayat ketujuh Allah menjelaskan, jika telah selesai dari suatu urusan, harus tetap bekerja keras untuk urusan yang lain. Sebagian mufasir menafsirkan jika engkau (Muhammad) telah selesai berdakwah, beribadahlah kepada Allah; jika engkau telah selesai melaksanakan urusan dunia, kerjakanlah urusan akhirat dan ada lagi yang mengatakan, ”Jika telah mengerjakan salat maka berdoalah”. Ayat terakhir Surah al-Insyirah. [94] ini memberi penjelasan bahwa hanya kepada Tuhan kita berharap.

Sebagian mufasir menjelaskan bahwa Surah al-Insyirah. [94] diturunkan sebagai penghibur hati Nabi Muhammad yang ditinggal oleh orang-orang yang mendukung dakwahnya. Orang yang dimaksud adalah Khadijah dan Abu Talib, pamannya. Kedua orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah tersebut mendukung dan membantu Rasulullah dalam berdakwah. Wafatnya Khadijah dan Abu Talib membuat hati Rasulullah berduka. Allah menghibur Rasulullah dengan menurunkan Surah al-Insyira-h. [94] ini.

Khadijah binti Khuwailid merupakan istri Rasulullah saw. Rasulullah saw. sangat mencintai Khadijah begitu juga sebaliknya. Mereka hidup rukun dan tenteram. Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira, Khadijah yang menenangkannya. Khadijah merupakan wanita pertama yang memeluk Islam. Khadijah merupakan saudagar kaya raya di Mekah. Setelah memeluk Islam, Khadijah mempergunakan harta bendanya untuk membantu dakwah rasul. Khadijah merupakan istri yang setia mendampingi Rasulullah saw. dalam suka dan duka. Khadijah menjadi tempat curahan hati ketika hati gundah gulana. 

Abu Talib merupakan paman Rasulullah saw. Sepeninggal Abdul Muttalib, Nabi Muhammad berada dalam asuhan Abu Talib. Abu Talib mengasuh Rasulullah penuh kasih sayang meskipun dia bukanlah orang yang berkecukupan dalam bidang ekonomi. Rasulullah belajar tentang cara berdagang kepada Abu Talib ketika beliau turut dalam kafilah dagang bersama pamannya tersebut. Pada saat Rasulullah saw. diangkat menjadi rasul, Abu Talib tidak bersedia memeluk Islam. Meskipun demikian, dia adalah paman yang selalu melindungi dan mendukung dakwah Rasulullah. Abu Talib termasuk orang yang disegani di kalangan Quraisy dan keluarganya. Keberadaan Abu Talib yang mendukung dakwah Rasulullah saw. menyebabkan kaum Quraisy sedikit enggan untuk menyiksa dan bersikap lebih kasar kepada Nabi Muhammad saw.

Kerja Keras sebagai Pengamalan Surah Al-Insyirah. [94]
Allah swt. dan rasul-Nya memerintahkan kepada manusia agar bekerja keras. Kerja keras dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh untuk menggapai keinginan atau cita-cita. Bentuk kerja keras ini dapat berbeda-beda sesuai dengan kondisi atau profesi seseorang. Seorang petani bekerja keras dengan cara merawat dan menjaga tanamannya dengan baik. Seorang pedagang bekerja keras dengan cara menawarkan, memberi pelayanan yang baik, dan menjaga kualitas barang dagangannya. 

Islam memberi penghargaan kepada pekerja keras. Penghargaan terhadap pekerja keras dapat ditemukan dalam sebuah hadis Rasulullah saw. yang artinya, ”Dari Zubair bin Awwam r.a. dari Nabi saw. bersabda: Seseorang yang mengambil tali dan membawa kayu bakar di punggungnya kemudian dijualnya kayu itu, Allah akan mencukupkan dengannya kebutuhannya. Hal ini lebih baik daripada ia meminta kepada manusia baik ia diberi maupun ditolak”. (H.R. Bukhari) 

Berdasarkan terjemah hadis di atas dijelaskan bahwa orang yang mencari kayu bakar kemudian menjualnya lebih baik daripada orang yang hanya meminta-minta. Orang yang mencari kayu bakar kemudian menjualnya dapat dikategorikan sebagai pekerja keras. Orang seperti ini lebih dihargai daripada orang yang hanya berdiam diri menunggu belas kasih orang lain.

Bekerja keras bukan hanya berlaku untuk hal-hal yang berkaitan dengan materi. Kerja keras juga harus dilakukan oleh seorang pelajar. Pada rubrik serambi dikisahkan bahwa Ahmad telah bekerja keras untuk memperoleh hasil ujian yang baik. Kerja keras Ahmad dilakukan dengan belajar sungguh-sungguh karena ia adalah seorang pelajar. Ilmu pengetahuan tidak akan datang dengan sendirinya kepada seseorang. Oleh karena itu, kita harus bekerja keras untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan. Sungguh tepat jika pepatah Arab menyebutkan, ”Seandainya cahaya ilmu didapatkan hanya dengan lamunan, niscaya tidak akan ada orang bodoh di dunia ini. Maka bersungguh-sungguhlah, jangan malas dan jangan lalai karena hanya penyesalan yang didapat oleh orang yang bermalasan”. 

Pelajaran yang dapat kita ambil dari pepatah tersebut yaitu kerja keras dalam menuntut ilmu. Seandainya ilmu pengetahuan bisa didapat dengan lamunan, tidak akan ada orang bodoh di dunia ini. Oleh karena ilmu pengetahuan tidak bisa didapat melalui lamunan, kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh. Kita tidak boleh bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Hanya penyesalan yang akan didapat oleh pemalas. Jelaslah sudah bahwa kerja keras harus diterapkan pada semua bidang, termasuk dalam menuntut ilmu. 

Setelah berusaha maksimal dengan mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengapai keinginan, Islam memerintahkan agar kita berdoa. Berdoa kepada Allah swt. memohon keberhasilan usaha yang telah dilakukan. Selanjutnya, kita serahkan hasil usaha kepada Allah swt. Hanya Allah swt. yang menentukan berhasil atau tidaknya usaha manusia. Keberhasilan atau kegagalan yang akan ditemui merupakan hal terbaik bagi manusia. Oleh karena Allah swt. mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.


Sumber Artikel: http://www.ipapedia.web.id/2015/08/kandungan-surah-al-insyirah-94.html

0 komentar:

Posting Komentar