Upacara-Upacara Adat Bercorak Islam

Jumat, 17 Maret 2017

Upacara-Upacara Adat Bercorak Islam

Tradisi atau upacara adat di Nusantara sangatlah terkait dengan kepercayaan lama telah dianut masyarakat sebelum datangnya Islam. Tentunya kepercayaan tersebut berlainan dengan ajaran Islam. Pemahaman tentang Tuhan yang cenderung animisme dan dinamisme misalnya, sangat berbeda dengan ajaran tauhid. Islam mengakui hanya Allah Tuhan yang berhak dimohon dan dimintai pertolongan. Bukan makhluk-Nya, sekalipun itu makhluk gaib. Pemahaman ini tentunya berlainan dengan yang berkembang di tengah masyarakat pada umumnya. 

Beragam upacara adat lokal telah lama berlangsung dalam masyarakat, misalnya upacara daur kehidupan yang meliputi upacara kelahiran, usia dewasa, pernikahan, dan kematian. Ada juga upacara ketika hendak membangun rumah, menanam padi, atau mengadakan hajatan-hajatan lainnya guna menolak bala dan memohon berkah. Upacara-upacara tersebut di masing-masing daerah memiliki nama yang berbeda-beda, tetapi memiliki maksud yang kurang lebih sama, yaitu memohon kepada para dewa agar menganugerahkan keselamatan. 

Setelah Islam datang dan dianut oleh masyarakat dengan mengusung ajaran tauhid, kepercayaan lama pun ditinggalkan. Akan tetapi, beberapa upacara adat tetap berlangsung dan tidak lantas dihilangkan. Di sinilah terjadi perubahan orientasi tujuan upacara itu sendiri, bukan untuk memohon kepada para Dewa sebagaimana kepercayaan lama. Namun, untuk memohon kepada Allah Yang Maha Esa. Hal ini ditunjukkan dengan pembacaan doa secara Islami dalam beberapa upacara, baik upacara adat yang lingkupnya luas maupun dalam lingkup keluarga. Adapun mengenai simbol-simbol upacara, seperti alat-alat dan seluruh kelengkapannya ditinggalkan dan disesuaikan dengan ajaran Islam.

Di beberapa daerah sepanjang Nusantara terdapat upacaraupacara adat yang mendapat pengaruh budaya Islam. Upacara adat yang dimaksud misalnya untuk menyambut beberapa hari besar Islam, khususnya Maulid Nabi atau hari kelahiran Rasulullah. Dalam menyambut maulid Nabi, upacara perayaannya di masing-masing daerah berlainan dan memiliki keunikan tersendiri. Di Jawa Tengah misalnya, setiap bulan Maulud dilangsungkan upacara Grebeg Maulud. Upacara yang berlangsung semenjak zaman Kerajaan Demak ini, tetap dilestarikan di Keraton Surakarta. 

Di Keraton Cirebon upacara menyambut Maulud dikenal dengan sebutan upacara Panjang Jimat. Penamaan Panjang Jimat sejatinya adalah nama piring atau baki lebar yang digunakan untuk menempatkan makanan untuk dibagi-bagikan. Yang menarik, piring dan baki itu hanya digunakan sekali dalam setahun. Pada malam tanggal 12 Maulud, panjang jimat itu diarak menuju masjid oleh sultan dan kerabat keraton. Tidak kalah menariknya di Keraton Yogyakarta juga dilangsungkan upacara yang sama. Bahkan, sebelum tanggal 12 Maulud, dilangsungkan upacara penyambutan yang dikenal dengan upacara sekaten. Upacara sekaten ini jika dirunut dalam sejarah masa lalu sesungguhnya mengandung pesan yang amat dalam, tepatnya berkaitan dengan proses islamisasi yang dilakukan oleh para wali.

Sekaten Sebagai Media Dakwah
Pada awal masa perkembangan agama Islam di Jawa, Sunan Kalijaga (salah seorang dari Wali Sanga) mempergunakan instrumen musik gamelan Jawa, sebagai salah satu sarana untuk menarik perhatian masyarakat agar mau datang untuk menghadiri dan menikmati pergelaran karawitannya. Pergelaran karawitan ini mempergunakan dua perangkat gamelan yang memiliki laras suara sangat merdu, yaitu Kiai Nogowilogo dan Kiai Guntur Madu. Selain memainkan alat gamelannya, saat pergelaran Sunan Kalijaga juga melakukan khotbah dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Selama khotbahnya, Sunan Kalijaga memberikan kesempatan bagi masyarakat yang berkeinginan untuk memeluk agama Islam. Mereka diwajibkan mengucapkan kalimat syahadat sebagai pernyataan taat pada ajaran agama Islam. Istilah syahadat ini kemudian dikenal masyarakat Jawa dengan istilah syahadatain, yang berangsung-angsur berubah menjadi syakatain dalam pengucapannya. Dan saat ini lebih dikenal dengan istilah sekaten.
Upacara Sekaten

Selain contoh yang disebutkan di atas, tentunya masih banyak upacara adat yang berlangsung di tanah air di berbagai daerah. Masing-masing daerah pun dilaksanakan dengan mengusung ciri khas budaya setempat. Misalnya, upacara Tabut yang dilaksanakan untuk memperingati wafatnya Husein bin Ali dalam peristiwa di Karbala. Upacara ini sangat terkenal di sebagian Sumatra. Inilah keistimewaan ajaran Islam yang selalu mempertahankan tradisi setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajarannya. Bahkan ajaran Islam sendiri, setelah dianut oleh sebagian besar masyarakat Nusantara, menjadi roh dalam melakukan berbagai upacara perayaan.

Apresiasi terhadap Tradisi dan Upacara Adat

Dalam menyikapi seni budaya yang ada, khususnya kesenian tradisional yang ada di tengah masyarakat, kita perlu arif dalam menyikapinya. Kita banyak menemukan seni budaya yang dipandang non-Islam bahkan dianggap Hinduistis ataupun Buddistis sehingga diharamkan keberadaannya. Padahal, jika kita merunut pada sejarah masa lalu, sesungguhnya produkproduk budaya tadi, awal mulanya dijadikan sarana dakwah ajaran Islam. Oleh karena dengan jalan mau membuka diri untuk berakulturasi dengan budaya lokal, Islam menjadi lebih mudah disampaikan.

Berbagai kesenian yang berkembang di Jawa, misalnya wayang, gamelan, dan sebagainya, merupakan wadah untuk menyampaikan misi dakwah tersebut. Bukan hanya itu, sesungguhnya seni juga merupakan sarana paling efektif untuk membentuk jiwa agar semakin halus serta pikiran cerdas, sehingga keberadaannya penting untuk dipertahankan.

Memperhatikan kenyataan tersebut kita sebagai generasi muda harus menghargai seni budaya dalam khazanah umat Islam. Berbagai cara dapat dilakukan untuk menunjukkan penghargaan terhadap seni budaya tersebut. Salah satunya dengan melestarikan budaya yang bernuansa Islam dan mengembangkannya. Selain itu, kita juga dapat berusaha menggali makna yang terkandung di balik seni budaya tersebut sehingga orang lain memahami maksud dan tujuannya. Dengan demikian, orang lain menjadi tertarik dan kita dapat mengajaknya untuk melestarikan dan mengambangkan seni budaya dimaksud.

Jangan malu dikatakan sebagai generasi yang tidak modern karena mengembangkan seni budaya peninggalan para pendahulu. Seni budaya tersebut dapat menjadi ciri khas bangsa dan tidak semua yang modern selalu baik. Kita juga dapat meluruskan kembali sesuai tujuan awalnya jika ada seni budaya Islam yang telah disewengkan.


Sumber Artikel: http://www.ipapedia.web.id/2015/09/upacara-upacara-adat-bercorak-islam.html

0 komentar:

Posting Komentar