Minggu, 16 April 2017

Pengertian Pertentangan (Konflik) dan Faktor Penyebab Terjadinya Pertentangan (Konflik)

Didunia ini kita hidup dengan jutaan bahkan milyaran masyarakat, di dalam lingkungan masyarakat yang terdiri dari berbagai macam budaya dan bahasa. Banyaknya budaya dan bahasa di lingkungan kita terkadang menimbulkan satu keragaman yang unik namun terkadang banyaknya budaya dan bahasa menimbulkan konflik (pertentangan). Apa itu konflik (pertentangan) . Konflik (pertentangan) Diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain. Banyak yang menyebabkan konflik (pertentangan) didalam masyarakat. Sebagai akibat adanya diferensiasi dan stratifikasi sosial dalam masyarakat, menyebabkan terjadinya perubahan struktur sosial yang baru, yang dapat menimbulkan timbulnya perbedaan nilai dan norma sosial. Untuk itu harus diupayakan penyesuaian dari semua pihak, agar persatuan kesatuan tetap terwujud.

Berikut ini adalah pembahasan tentang salah satu bentuk interaksi sosial disosiatif yaitu pertentangn atau konflik yang meliputi pengertian pertentangan, pengertian konflik, bentuk pertentangan, bentuk konflik, penyebab terjadinya pertentangan, penyebab konflik, faktor penyebab konflik, contoh konflik sosial, faktor penyebab konflik sosial, penyebab timbulnya sengketa internasional.

Pengertian Pertentangan (Konflik)

Persaingan yang makin ketat dalam kehidupan masyarakat menyebabkan munculnya pertentangan atau konflik, baik yang berlangsung antarindividu maupun antarkelompok sosial.
Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupad perselisihan (disagreement), adanya keteganyan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih.

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Konflik

Pertentangan terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan pada sikap pribadi, di antaranya adalah sebagai berikut.

1) Perbedaan antarindividu

Setiap individu memiliki sifat khas yang berbeda dengan individu lainnya. Bahkan dalam satu keluarga sekandung pun tidak menutup kemungkinan terdapat perbedaan sifat atau karakter.

Adanya perbedaan sifat inilah yang sering memicu terjadinya konflik atau pertentangan. Apalagi jika masing- masing merasa paling benar dan tidak ada yang mau mengalah.

Perbedaan individu ini bisa menyangkut masalah perbedaan pandangan, prinsip, tujuan hidup, dan cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan.

2) Perbedaan antarkebudayaan

Masing-masing suku bangsa atau kelompok masyarakat memiliki kebudayaan yang khas. Kebudayaan masyarakat pedesaan berbeda dengan masyarakat perkotaan. Demikian pula kebudayaan daerah kota yang satu dengan daerah kota yang lain.

Perbedaan kebudayaan ini memungkinkan terjadinya pertentangan. Apalagi jika masing-masing kelompok sosial atau suku bangsa memiliki sikap chauvinisme yang kuat.

Sikap chauvinisme adalah sikap mengagung-agungkan kebudayaan sendiri dan memandang rendah kebudayaan lainnya. Paham chauvinisme inilah yang mendorong munculnya solidaritas in group yang mengarah pada fanatisme kelompok.

3) Perbedaan antarkepentingan

Setiap individu atau kelompok sosial kadangkala memiliki kepentingan yang berbeda- beda. Perbedaan kepentingan inilah yang memicu terjadinya pertentangan atau konflik. Misalnya perbedaan kepentingan antara buruh dan majikan dalam hal upah.

Jika buruh menginginkan upah yang tinggi, sedangkan pengusaha pada umumnya menghendaki upah yang relatif rendah untuk menigkatkan keuntungan. Benturan kepentingan dua kelompok sosial merupakan salah satu penyebab terjadinya pertentangan.

4) Terjadinya perubahan sosial

Perubahan yang cepat dalam kehidupan masyarakat akan menyebabkan pergeseran nilai-nilai yang mengakibatkan guncangan-guncangan dalam masyarakat. Dengan adanya halhal baru, masyarakat akan terbelah menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang pro dan kelompok yang kontra.

Pada umumnya golongan tua cenderung akan mempertahankan nilainilai dan norma sosial yang sudah ada, sedangkan golongan muda cenderung meninggalkan nilai-nilai dan norma lama diganti dengan nilai dan norma baru yang dianggap lebih mewakili aspirasi mereka.

Advertiser


EmoticonEmoticon