Pengertian Tarif Pajak dan Cara Menghitung Tarif Pajak beserta Contohnya Lengkap

Pajak adalah iuran kepada negara yang dipungut berdasarkan UU perpajakan. Pajak merupakan bagian dari kehidupan kita tak mungkin bisa kita hindari, mulai dari penghasilan, kepemilikan motor, sampai dengan makan makanan di restoran juga dikenai pajak. Disetiap daerah menerapkan besaran pajak yang berbeda, mulai dari besaran yang kecil sampai dengan yang besar. Semua itu tergantung dengan masyarakat potensi daerah yang ada dalam daerah tersebut.Dasar hukum bagi berlakunya pajak di Indonesia adalah Pasal 23A UUD 1945 amandemen ke-4 “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan Negara diatur oleh Undang-Undang” dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pajak adalah suatu kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia. Tarif pajak juga disesuaikan oleh pemerintah agar setiap masyarakat membayar pajak.

Pemungutan pajak tidak terlepas dari unsur keadilan.  Keadilan disini dapat diartikan dalam prinsip (undang-undang), maupun adil dalam pelaksaannya sehingga dapat menciptakan keseimbangan sosial untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam pengenaan tarif pajak, dinyatakan dalam presentase. Persentase pengenaan tarif pajak tersebut ada yang tetap dan ada juga yang berubah sesuai dengan jenis pajak yang harus dibayar wajib pajak.

Berikut ini adalah pembahasan tentang tarif pajak yang meliputi pengertian tarif pajak, cara menghitung tarif pajak atau sistem penghitungan tarif pajak.

Pengeritan Tarif Pajak

Tarif pajak adalah dasar pengenaan besarnya pajak yang harus dibayar subjek pajak terhadap objek pajak yang menjadi tanggungannya. Tarif pajak pada umumnya dinyatakakan dengan persentase.

Sistem atau Cara Menghitung Tarif Pajak

Menurut besar kecilnya pajak yang harus dibayar, tarif pajak dihitung dengan sistem:

1) Proporsional

Tarif pajak yang persentasenya tetap/sama untuk setiap jenis objek pajak. Di mana makin besar pendapatan yang diterima oleh seorang wajib pajak, maka makin besar pula pajak yang seharusnya dibayarkan.

Misalnya tarif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 5 %, jika dasar pengenaan pajak sebesar Rp4.000.000,00, maka besar pajak PPN = Rp200.000,00, dan jika dasar pengenaan pajak sebesar Rp8.000.000,00, maka besar pajak PPN = Rp400.000,00.

2) Progresif

Tarif pajak yang persentasenya makin besar jika objek pajak bertambah. Di mana jika makin besar pendapatan yang diperoleh wajib pajak, maka makin besar pula persentase pajak yang harus dibayar.

Misalnya dasar pengenaan pajak Rp8.000.000,00 sebesar 5 %, maka jumlah pajak yang harus dibayar adalah 5 % dari Rp8.000.000,00 = Rp400.000,00.

Jika dasar pengenaan pajak menjadi Rp16.000.000,00 (meningkat 2 x semula), maka pajak yang semula 5 % mengalami peningkatan tarif menjadi 10 % sehingga besar pajak yang harus dibayar adalah 10 % x Rp16.000.000,00 = Rp1.600.000,00 dan seterusnya.

3) Degresif

Tarif pajak yang makin rendah jika objek pajaknya bertambah. Jika makin tingi penghasilan wajib pajak, maka pajak yang harus dibayar justru makin rendah.

Misalnya dasar pengenaan pajak sebesar Rp8.000.000,00 tarif pajaknya 20 % = Rp1.600.000,00 maka jika dasar pengenaan pajak sebesar Rp16.000.000,00 (meningkat 2 x semula) tarif pajak dikurangi 5 %, jadi besar pajak yang dibayar = 15 % x Rp16.000.000,00 = Rp2.400.000,00 tetapi jika dasar pengenaan pajak sebesar Rp24.000.000,00 (3 x semula), maka besarnya pajak adalah 10 % dari Rp24.000.000,00 = Rp2.400.000,00, dan jika penghasilannya Rp32.000.000,00, maka pajak yang dikenakan hanya 5 % x Rp32.000.000,00 = Rp1.600.000,00.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Tarif Pajak dan Cara Menghitung Tarif Pajak beserta Contohnya Lengkap"

Posting Komentar