Minggu, 23 April 2017

Penyebab Terjadinya Perlawanan Rakyat Mataram Terhadap VOC Dan Akhir Kesudahannya

Sultan Agung adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai zaman keemasan. Cita-cita Sultan Agung antara lain:

  • mempersatukan seluruh tanah Jawa, 
  • mengusir kekuasaan asing dari bumi Nusantara. 

Terkait dengan citacitanya ini maka Sultan Agung sangat menentang keberadaan kekuatan VOC di Jawa. Apalagi tindakan VOC yang terus memaksakan kehendak untuk melakukan monopoli perdagangan membuat para pedagang Pribumi mengalami kemunduran. Kebijakan monopoli itu juga dapat membawa penderitaan rakyat. Oleh karena itu, Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia.

Berikut ini merupakan pembahasan tentang penyebab terjadinya perlawanan mataram terhadap voc, perlawanan rakyat mataram terhadap belanda, perlawanan rakyat mataram terhadap voc, perlawanan sultan agung terhadap belanda, perlawanan kerajaan mataram terhadap voc, perlawanan mataram terhadap belanda.

Perlawanan Mataram (Perlawanan Sultan Agung) Terhadap VOC

Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613–1645). Cita-cita Sultan Agung adalah menyatukan kerajaan-kerajaan Jawa di bawah pimpinan Mataram.

Perlawanan rakyat Mataram pertama terhadap VOC di Batavia dilakukan pada bulan Agustus 1628 yang dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso. Walaupun pasukan Mataram kelelahan akibat menempuh jarak yang sangat jauh dengan persediaan bahan makanan yang mulai menipis, pasukan Mataram mampu melakukan serangan terhadap VOC di Batavia sepanjang hari.
Perlawanan Rakyat Mataram Terhadap Belanda (VOC)
Sebagian pasukan Mataram melakukan serangan mendadak melalui perairan laut Batavia serta sebagian lagi mendarat dan bermukim di daerah Marunda (terletak di sebelah timur Cilincing, Jakarta) untuk membangun benteng darurat yang terbuat dari bambu yang dianyam. Namun, benteng pertahanan darurat milik pasukan Mataram dan perkampungan rakyat untuk berlindung tersebut banyak dibakar kompeni.

Pada saat situasi demikian, datanglah pasukan bantuan dari Mataram yang dipimpin oleh Suro Agul-Agul, Dipati Uposonto, Dipati Mandururejo, dan Dipati Ukur mulai bergerak menyerang kota tetapi mendapat kesulitan karena tembakan yang gencar dilakukan oleh kompeni. Upaya yang dilakukan pasukan Mataram berikutnya adalah membendung Sungai Ciliwung agar penghuni benteng (Belanda) kekurangan air. Strategi ini ternyata cukup efektif, terbukti bangsa Belanda kekurangan air dan terjangkit wabah penyakit malaria dan kolera yang sangat membahayakan jiwa manusia.

Kondisi pasukan Mataram yang kelelahan dan terserang penyakit memaksa pasukan Mataram mengundurkan diri sehingga perlawanan rakyat Mataram saat itu mengalami kegagalan.

Penyebab Terjadinya Perlawaanan Mataram terahadap VOC

Adapun sebab-sebab Mataram menyerang Batavia (VOC) adalah:

(1) Mengusir Belanda dari tanah air Indonesia.

(2) Belanda sering merintangi perdagangan Mataram di Malaka.

(3) Belanda melaksanakan monopoli perdagangan.

Sejarah Perlawanan Mataram terahadap Belanda

Sultan Agung mengadakan penyerangan ke Batavia pertama kali pada tahun 1628. Pasukan pertama dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso.

Adapun pasukan kedua dipimpin oleh Tumenggung Agul-Agul, Kyai Dipati Mandurorejo, Kyai Dipati Upusonto, dan Dipati Ukur. Namun serangan tersebut mengalami kekalahan.

Kegagalan serangan pertama tidak mengendorkan semangat melawan Belanda. Sultan Agung menyusun kembali kekuatan untuk melakukan serangan kedua dengan matang dan cermat.
Penyebab Terjadinya Perlawanan Rakyat Mataram Terhadap VOC Dan Akhir Kesudahannya
Gambar: Sultan Agung

Pada Tahun 1629 Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya di bawah pimpinan Dipati Puger dan Dipati Purbaya.

Serangan kedua juga mengalami kegagalan, sebab persiapan Sultan Agung telah diketahui oleh VOC, gudang-gudang persiapan makanan Sultan Agung dibakar oleh VOC.

Dalam peperangan itu Pimpinan VOC Y.P. Coen meninggal akibat penyakit colera, sehingga tentara Mataran mundur takut terserang penyakit.

Kemudian perlawanan rakyat Mataram dilanjutkan oleh:

(1) Trunojoyo (1674–1709)

(2) Untung Suropati (1674–1706)

(3) Mangkubumi dan Mas Said (1474–1755)

Isi Perjanjian Giyanti

Pada saat perlawanan Mangkubumi, terjadi kesepakatan damai dengan Belanda dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (1755) yang isinya:

(1) Mataram dibagi menjadi dua yaitu Mataram Barat (Jogja) dan Mataram Timur (Surakarta).



(2) Mangkubumi berkuasa di Mataram Barat dan Paku Buwono berkuasa di Mataram Timur (Surakarta).


Advertiser


EmoticonEmoticon